biologi neophobia makanan

mengapa kita sering takut mencoba rasa baru

biologi neophobia makanan
I

Bayangkan kita sedang duduk santai di sebuah restoran baru yang sedang viral. Menunya tebal, penuh dengan deskripsi makanan eksotis yang bikin penasaran. Ada saus truffle fermentasi, daging wagyu dengan puree ubi ungu, sampai hidangan penutup berbahan dasar daun basil. Kita membolak-balik halaman itu selama sepuluh menit penuh. Tapi saat pelayan datang, tebak apa yang keluar dari mulut kita? "Nasi goreng ayam satu, ya." Pernahkah kita berada di situasi konyol seperti ini? Tenang saja, teman-teman. Kita sama sekali tidak sendirian, dan kita bukanlah orang yang membosankan. Sebenarnya, ada kekuatan evolusi purba yang sedang mengambil alih kemudi keputusan kita saat kita memilih nasi goreng itu.

II

Di dunia sains, keengganan kita untuk mencoba makanan baru ini punya nama resmi: food neophobia. Secara harfiah, istilah ini berarti rasa takut pada makanan baru. Kadang kita merasa bersalah atau dilabeli "pemilih makanan" oleh lingkaran pergaulan kita. Padahal, fenomena ini berakar sangat jauh ke masa lalu, tepatnya saat nenek moyang kita masih hidup nomaden sebagai pemburu dan pengumpul. Secara biologis, manusia adalah omnivora. Kita butuh berbagai macam nutrisi dari berbagai sumber alam. Tapi, menjadi omnivora membawa satu dilema psikologis besar yang disebut oleh para ilmuwan sebagai The Omnivore's Paradox. Di satu sisi, kita harus berani menjelajah dan mencoba makanan baru agar tidak mati kelaparan saat sumber makanan utama habis. Namun di sisi lain, mencoba buah berry berwarna cerah atau jamur aneh di tengah hutan bisa berujung pada keracunan dan kematian tragis. Jadi, otak dan tubuh kita berevolusi untuk menjadi sangat, sangat waspada.

III

Pertanyaannya, bagaimana cara otak kita menyalakan alarm tanda bahaya ini secara biologis? Mari kita mengintip sedikit ke dalam sirkuit kepala kita. Saat kita melihat, mencium, atau membayangkan makanan yang bentuknya asing, sebuah struktur kecil berbentuk kacang almond di otak kita yang bernama amygdala langsung menyala terang. Amygdala ini adalah pusat rasa takut dan memori emosional kita. Ia tidak peduli makanan itu dimasak oleh chef bintang Michelin. Bagi amygdala, "asing" sama dengan "potensi racun". Ditambah lagi, secara genetik lidah kita diprogram untuk sangat sensitif terhadap rasa pahit dan asam. Di alam liar, rasa pahit sering kali merupakan sinyal dari zat alkaloid beracun yang dihasilkan tanaman untuk membela diri. Tapi anehnya, mengapa ada orang yang santai saja mengunyah gurita mentah atau keju berjamur, sementara sebagian dari kita rasanya ingin lari melihat sayur pare? Apakah lidah mereka berbeda, ataukah otak mereka yang mengalami korsleting?

IV

Rahasianya ternyata terletak pada apa yang disebut oleh ahli biologi evolusioner sebagai evolutionary mismatch atau ketidakcocokan evolusi. Otak yang kita gunakan hari ini pada dasarnya masih menjalankan perangkat lunak manusia purba berusia ratusan ribu tahun, padahal fisik kita sedang duduk di restoran modern yang bahan makanannya sudah dijamin aman oleh standar kesehatan. Kita merasa takut karena DNA kitalah yang menyuruh kita takut demi bertahan hidup. Namun, inilah bagian sains yang paling melegakan: otak kita memiliki neuroplasticity, yaitu kemampuan adaptasi untuk membentuk jalur saraf baru. Kita tidak ditakdirkan untuk takut pada rasa asing selamanya. Mereka yang suka makanan aneh itu bukan lahir dengan keberanian super. Mereka sekadar sudah melewati proses repeated exposure atau paparan yang berulang-ulang. Saat kita nekat mencicipi makanan baru, dan keesokan harinya kita tidak mati keracunan, amygdala akan memperbarui datanya: "Oh, ternyata ini aman." Semakin sering kita mencoba, dinding ketakutan purba itu perlahan runtuh, digantikan oleh ledakan hormon dopamin dari rasa nikmat yang baru kita temukan.

V

Jadi, teman-teman, mari kita mulai berdamai dengan sistem biologi kita sendiri. Tidak ada yang salah dengan memesan hidangan yang itu-itu saja. Makanan yang familier alias comfort food memang dirancang otak untuk memberikan pelukan emosional yang kita butuhkan, terutama di hari yang terasa melelahkan. Keengganan kita mencoba rasa baru adalah bukti nyata bahwa insting bertahan hidup warisan nenek moyang kita masih berfungsi dengan sangat baik. Tapi, mungkin di akhir pekan nanti, saat kita makan di luar, kita bisa mulai mengajak amygdala kita bernegosiasi sedikit demi sedikit. Kita bisa tetap memesan nasi goreng ayam kesukaan kita, tapi cobalah beranikan diri mencuri satu gigitan hidangan baru dari piring teman kita. Siapa tahu, tepat di balik rasa takut purba tersebut, tersembunyi sebuah rasa luar biasa yang akan kita nikmati seumur hidup.